Obituari untuk Hantu-hantu Ibu
Setahun lalu, saya menamatkan buku Memaksa Ibu Jadi Hantu yang diterbitkan Pustaka Cantrik. Sebuah buku yang secara subjektif layak menyandang predikat salah satu buku dengan judul terbaik. Memaksa Ibu Jadi Hantu: Wacana Maternal Horor dalam Film Indonesia Kontemporer merupakan karya Annissa Winda dan Juustito Adiprasetio. Buku ini mengkaji bagaimana sinema Indonesia membangun hubungan antara figur ibu, keibuan, dan horror, terutama pada film Pengabdi Setan (2017) dan Perempuan Tanah Jahanam (2019). Film Pengabdi Setan sendiri pernah mendapatkan 7 piala citra. Sebuah pencapaian besar bagi film horor Indonesia.
Pada ulasan ini, saya akan mencoba menjabarkan bagaimana ibu—dengan banyak perjuangannya—diposisikan sebagai monster (monstrous mother) karena tidak memenuhi kriteria ibu baik (good mother) dalam masyarakat patriarkal. Tulisan ini adalah refleksi untuk membuka mata bagaimana sebuah ketidakadilan bisa tumbuh dalam wajah-wajah pengorbanan.
Bukankah kita memandang ibu sebagai seseorang yang penyayang, pelindung keluarga, hingga lambang pengorbanan? Tetapi, mengapa banyak sekali hantu dalam film horror Indonesia mengangkat tema Ibu sebagai sosok monster yang ditakuti? Bukankah hal ini padadoks? Apa yang ada dalam buku ini memberikan paradigma mengenai bagaimana norma patriarkal membentuk standar keibuan dan dengan kejamnya menentukan perempuan seperti apa yang dianggap layak diterima oleh masyarakat.
Dalam kebudayaan patriarkal, ibu kerap ditempatkan pada posisi yang nyaris sakral. Ia diharapkan mencintai tanpa batas, mengutamakan keluarga, menanggung penderitaan dengan sabar, dan tidak membiarkan kepentingan pribadinya mengganggu tanggung jawab domestik. Citra tersebut tampak mulia, tetapi menyimpan tuntutan yang mengekang. Perempuan tidak hanya diharapkan menjadi ibu, melainkan juga harus terus-menerus membuktikan bahwa dirinya adalah ibu yang baik. Hingga ketika ia menyadari tekanan dalam dirinya dan ingin membalas, ia perlu lebih dulu menjadi hantu. Seolah-olah, tidak ada harapan pada sistem dalam masyarakat yang bisa membantunya.
Saya sering mendengar beberapa teman laki-laki saya mengungkapkan kekagumannya pada ibunya karena telah mengorbankan banyak hal, bersabar atas tindakan ayahnya, atau berani mengubur banyak mimpi di hidupnya demi menghidupi keluarganya.
Laki-laki menganggap itu sebagai pengorbanan, perempuan menganggapnya sebagai peringatan.
Di sinilah ketakutan terhadap ibu yang dianggap gagal memperoleh maknanya. Dalam imajinasi sosial yang lebih luas, kegagalan dapat dilekatkan pada perempuan yang marah, lelah, tidak mampu memenuhi seluruh tuntutan keluarga, atau memilih kepentingannya sendiri. Ketika seorang ibu menyimpang dari gambaran ideal tersebut, masyarakat dapat memandangnya sebagai sosok yang egois, tidak wajar, bahkan berbahaya. Seolah-olah, perempuan yang tidak memenuhi tuntutan pengorbanan telah kehilangan haknya untuk dipahami sebagai manusia biasa.
Film horor kemudian dapat mengeksploitasi ketakutan tersebut. Sosok ibu yang seharusnya memberikan rasa aman diubah menjadi sumber ancaman. Kedekatan emosional yang biasanya diasosiasikan dengan keibuan justru menjadi sumber kegelisahan ketika kasih sayang berubah menjadi kemarahan, perlindungan menjadi kontrol, atau kehadiran ibu menjadi sesuatu yang mengancam. Penonton dibuat takut karena figur yang semestinya mereka percaya tidak lagi sesuai dengan peran yang mereka kenal. Namun, pernahkah kita menanyakan apakah kita cukup mengenal deritanya? Maka, yang menakutkan bukan kemunculan ibu sebagai hantu, tetapi kenyataan bahwa masyarakat begitu mengabaikan seorang perempuan ketika ia masih hidup, lalu mempertaikan kehadirannya ketika ia berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Sialnya, tetap diproyeksikan sebagai seseorang dengan karakter antagonis.
Buku Memaksa Ibu Jadi Hantu dapat dijadikan referensi untuk menentang status quo, terutama mengenai relasi gender. Ulasan ini juga menjadi refleksi bagaimana kita perlu menawarkan sebuah perubahan yang radikal untuk membicarakan isu gender.
Obituari ini, saya berikan kepada Ibu yang telah berjuang untuk keluarga dan hidupnya hingga harus kehilangan identitas diri sendiri; dan bagian-bagian perempuan yang terkubur dibalik tuntutan untuk menjadi ibu yang sempurna. Dan segala yang telah terkubur dan tak bernama, hari ini menemukan kabar kematiannya.
Teks oleh Sholichah