Cover Membaca Fiksi secara Dekolonial: Pengantar Analisis Sastra dalam Konteks Global Selatan
Thumbnail Galeri
Non Fiksi

Membaca Fiksi secara Dekolonial: Pengantar Analisis Sastra dalam Konteks Global Selatan

Penulis: Dewi Candraningrum | Penerbit: Cantrik Pustaka
Rp 90.000
Stok: 10 Eks • Berat: 350 Gram • Kondisi: Baru & Original
🛡️ 100% Produk Original
📦 Packing Aman
đźšš Pengiriman Cepat
đź’¬ CS Respon Cepat

Sinopsis Buku

Penulis: Dewi Candraningrum & Manneke Budiman Tebal: 152 halaman Ukuran: 15,5 x 23 cm ISBN: 978-623-139-107-0 Cetakan 1, Maret 2026 Membaca Fiksi secara Dekolonial: Pengantar Analisis Sastra dalam Konteks Global Selatan adalah undangan intelektual sekaligus pedagogis untuk membongkar cara kita membaca, mengajar, dan memahami sastra. Ditulis oleh Dewi Candraningrum dan Manneke Budiman, buku ini menempatkan fiksi bukan sebagai teks yang netral, melainkan sebagai ruang perjuangan makna—tempat kuasa, sejarah, tubuh, dan ingatan saling berkelindan. Berangkat dari konteks Indonesia dan Global Selatan, buku ajar ini menawarkan pendekatan dekolonial sebagai strategi membaca yang kritis terhadap warisan kolonial, patriarki, dan nasionalisme homogen. Melalui pembacaan atas karya-karya fiksi Indonesia kontemporer, pembaca diajak menelusuri bagaimana perempuan, masyarakat adat, dan kelompok terpinggirkan merebut kembali suara mereka dari narasi dominan. Sastra dipahami sebagai praktik epistemic resistance—perlawanan pengetahuan—yang menantang hierarki global dan membuka kemungkinan dunia yang lebih adil. Buku ini memadukan teori dekolonial, feminisme interseksional, dan pedagogi kritis dalam modul-modul yang aplikatif dan reflektif. Setiap bab dilengkapi pertanyaan diskusi, proyek kelas, serta strategi pembelajaran berbasis keadilan epistemik. Dengan demikian, ia relevan bagi mahasiswa, dosen, guru, dan siapa pun yang ingin merancang kurikulum sastra yang transformatif. Lebih dari sekadar panduan analisis, buku ini adalah manifesto pedagogis: membaca fiksi berarti membaca dunia—dan melalui pembacaan yang sadar posisi, kita belajar menulis ulang dunia dengan imajinasi yang merdeka, etis, dan berpihak pada yang terpinggirkan.